Sabtu, 28 Januari 2012

Tikungan Kehidupan / Bab XIII

BAB XIII

   Di dalam kelas, suasana sangat gaduh, karena tak ada guru yang datang, karena ada guru yang mendengar suara tersebut, guru itu menghampiri ke dalam kelas. 
   "Kok gak ada gurunya, waktunya siapa?" tanya guru tersebut.
   "Waktunya pak Sutris, PKN" jawab Vina, yang duduknya ada di depan pojok sendiri di sebelah pintu. 
   "Mana ketua kelasnya?" tanya guru itu lagi.
   Setya langsung mengacungkan tangannya dan menghampiri guru tersebut, walaupun tidak di suruh. "Iya pak?" kata Setya.
   "Sudah ke piket ?" tanyanya lagi.
   "Masih belum pak" ujar ketua kelas itu.
   "Pergi ke piket sana, barangkali ada titipan tugas, kalau tidak ada ya kamu minta tugas buat temen-temenmu" suruh guru itu.
   Teman-teman sekelasnya yang mendengar itu langsung ramai, mereka menolak kalau meminta tugas. Tapi guru itu tidak menghiraukan mereka
   "Sana ! cepat pergi" suruh guru itu ke Setya.
   "Iya pak" sambil Setya mengangguk-anggukan kepalanya, "Ayo ben ikut!" ajak Setya untuk Benny biar dia menemaninya ke piket.
   Benny langsung bangkit dan segera mengikuti langkah Setya yang ada di depannya. 
   "Maaf pak, pak Sutrisnya ada ?" tanya Setya.
   "Oh pak Sutris, beliau tadi menitipkan tugas, sebentar-sebentar" kata guru piket itu sambil membuka lemari mencari lemnaran dari pak Sutris.
   Setelah akhirnya dapat, "Ini dia" sambil menyodorkan kertas itu ke Setya. Cowok itu menerimanya dan langsung segera pergi ke kelas, tak lupa ia berterima kasih ke guru tersebut.
   "Terima kasih pak" ujar Setya.
    "Iya sama-sama" balas guru piket tersebut.
    Setya dan Benny segera kembali ke kelas mereka. Setiba di kelas, cowok itu memberitahukan kabar yang dianggap sebagian besar teman-temannya adalah kabar yang tidak enak, bahwa ada tugas dari pak Sutrisno, begitu nama lebih lengkapnya.
   Setya langsung menghampiri Arsil, "nih ada tugas PKN, satu sampai sepuluh, catetin ya" suruh ketua kelas itu. Arsil pun langsung bangkit dan menuju ke papan tulis untuk mencatatkan tugas tersebut. 
   "Set, gimana?'' tanya Arini saat cowok itu akan menghampiri dan akan duduk di bangkunya. 
   "Gimana apanya?" tanya balik Setya dengan kerutan di dahinya, dia tak mengerti maksud dari pembicaraan cewek itu.
   "Shaun The Sheepnya ituloh" jawab Arini dengan sedikit kesal.
   "Ow, itu..." Setya menjelaskan apa yang terjadi tadi malam bersama dirinya saat membicarakan tentang kado buat adiknya.
   Setelah tau kalau Setya sedang butuh pekerjaan cewek itu berpikir, tapi tak dapat usul kalau Setya mau di saranin kerja dimana, "Tapi gimana kalau kita nanti cari bonekanya tersebut, kita lihat-lihat dulu, berapa kira-kira sisanya" kata Arini. 
   "Iya Ar, sip!" Setya langsung setuju .
   Setelah sekolah mereka langsung pergi ke sebuah mall, dan sambil melihat-lihat barang yang akan mereka beli atau pesan. Di lantai paling bawah mereka tak mendapati boneka tersebut, lalu mereka bertiga naik keatas, lantai dua, terus mutar tapi tetap saja tidak ada, terus ke tingkat tiga, tapi tetep saja mereka tidak menemukan boneka domba yang mereka inginkan, jangan kan warnanya yang merah muda, boneka Shaun The Sheep pun mereka tak melihat sama sekali, mereka mulai putus asa.
   Setya mengajak ke tempat terakhir, tempat tertinggi yang ada di mall itu, mereka naik ke tingkat empat, dengan harapan bisa menemukan target tersebut.Baru ada di tingkat empat, ada toko yang menjual boneka Shaun The Sheep, tapi sayangnya mereka liat dari luar tidak ada warna merah muda, semua terlihat berwarna seperti biasanya, yaitu kolaborasi warna putih dan hitam. Mereka mencoba masuk, dan menanyakan apakah ada boneka Shaun The Sheep berwarna merah muda.
   "Misi mbak, ada boneka Shaun The Sheep berwarna merah muda gak?" tanya Arini ke penjaga tokoh tersebut, dengan harap-harap cemas, mereka ingin penjaga cewek itu supaya menjawab iya. 
   "Maaf dek" kata cewek penjaga toko itu, seketika itu wajah Setya dan lainnya langsung lemas "Kemarin sudah ada, tapi emang stok kita cuman sedikit, cuman ada tiga mungkin boneka yang kamu inginkan" ujar terus penjaga toko yang terlihat sangat raman dan sabar dalam menghadapi setiap pembeli.
   "Apa sudah habis? telat berarti kita, nanti pesan lagi apa gak mbak ?" tanya Setya dengan harap-harao cemas.
   "Waduh gak tau aku dek, kamu kesini aja lusa atau kapan, insyaallah ada" kata penjaga itu. 
   Setya langsung berpikir sejenak, "Iya mbak, nanti aku akan kesini lagi" ujur Setya.
   "Buat apa emang, buat pacarnya ya?" tanya penjaga cewek itu menggoda Setya.
   "Hehe, enggak mbak, buat adik aku, kurang satu minggu lagi adik aku ulang tahun, dan aku sebagai kakak yang baik harus membelikan kado yang bisa membuat adik aku senang" ujar Setya.
   Penjaga itu tersenyum tipis dari mulutnya yang terlihat sexy itu. "Hmm, aku boleh minta nomer handpone kamu gak? nanti kalau ada kakak hubungin" kata sang pegawai. Setya pun menerima dan memberikan nomer ponselnya, lalu cowok itu pamit dan berterima kasih sudah membantunya.
   Mereka bertiga meneruskan memutari mall pada lantai teratas, tapi ternyata mereka tak dapat apa-apa, hasilnya mengecewakan, mereka cuman dapat satu tokoh yang menjual boneka domba itu, yang warna merah muda emang sulit, ujar Setya, sambil langkahnya menuju ke bawah lagi, dengan menggunakan eskalator.
   "Kita terusin atau gimana Set ?" tanya Arini.
   "Udah lah, kita pulang dulu, hari sudah lumayan sore, kita sampai rumah jam beraan ini" kata Setya sambil melihat jam tangannya.
   Mereka memutuskan untuk pulang, sebelum berpisah Setya memberitahu mereka sekali lagi, kalau ada kerjaan tolong hubungi aku, kata cowok itu.
   Mereka semua pun akhirnya berpisah, dengan tetap memakai seragam sekolah Setya pulang ke rumah di jam enaman, ibunya menanyakan kemana saja dia dari tadi, kok barusan pulang.
   Setya menjawab dengan "Ada urusan bu, maaf telat pulangnya" ucap Setya sambil mencium tangan ibunya yang sangat dingin.
   "Urusan apa?" tanya kalem ibu Setya.
   Setya cuman tersenyum merenges, dia tidak menjawabnya, cowok itu langsung menuju ke kamar mandi.
   Setelah selesai mandi, lalu ia makan, perutnya sudah keroncongan, cowok itu mengambil nasi begitu banyak, di tambah lauknya yang enak hari ini, sudah lapar benar di atas meja makan ada masakan ibu yang aku sukai, ujarnya dengan membuka tutup makanan.
   Dengan lahap cowok itu menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Setelah selesai, perut sudah kenyang lalu ia pergi ke kamarnya, dia ambil dan melihat layar ponselnya yang ada di atas kasur. satu pesan masuk dari Aldo, segera cowok itu membukanya dan isinya ternyata

   Gue Kangen Sella Set
   Gimna nih ??!!!

   Setya tertawa, lalu ia balsa sms itu dengan kata-kata "Ternyata lo masih suka ya sama Sella, tenang Al, tinggal tidur aja lah, biar gak terlalu mikirin dia" ujar Setya
   Tak lama ada balasan dari Aldo "Ya masih ada lah, kalau aku tinggal tidur kayaknya gak bisa deh, soalnya aku gak bisa tidur gara-mikirin dia, gak mungkin aku paksa buat tidur, hasilnya akan percuma" katanya.
   "Waduh gak tau Al, aku juga sudah ngantuk nih, kamu telepon aja, kali aja dia masih belum tidur" balas Setya.
   Tak lama lagi ada balasan kembali dari Aldo, tapi Setya ternyata sudah tidur. 
   Aldo yang menunggu-nunggu balasan dari Setya sudah lama, tapi tetap saja tak ada balasan, Aldo pun memutuskan untuk menelepon Setya, berulang-ulang dia lakukan, tapi cowok itu tak bangun-bangun. Aldo pun menyerah dan berganti mengkontak Arini, tapi hasilnya juga sama, tidak ada balasan sama sekali dari cewek itu. Aldo pun terpaksa menelepon Sella, tapi sia-sa juga, tak ada balasan jua dari cewek itu. Kini Aldo semakin galau, dia tidak bisa meminta saran ke sahabat-sahabatnya, mereka semua sudah tidur, terus mencari cara hingga tapi tetap saja yang ada di pikirannya malam ini adalah Sella, penuh dengan Sella. Tak tau harus bagaimana, cowok itu menarik nafas dengan berat-berat dan menghembuskannya kembali, secara berulang-ulang, hatinya sudah agak menjadi lebih tenangan, terus melakukan itu sampai akhirnya matanya merasakan kelelahan juga, dia merasa ngantuk, dengan suara radio yang pelan dan juga lagunya yang slow-slow gimana gitu, akhirnya Aldo tak kuat lagi menahannya dan tertutuplah matanya.

***

   Pagi yang dingin, Setya yang terbangun dari tidurnya karena alarm rutinnya, dia tidak mau membuka selimut yang menutupi seluruh badannya, karena pagi ini udara sangat dingin sekali tidak dingin seperti hari-hari biasa, tapi dinginnya bagaikan sampai menusuk tulang hari ini.
   Karena Setya tidak keluar-keluar dari kamanya, ibunya memanggil dia, dengan terpaksa Setya membuka selimutnya dan langsung terasa betapa dingin udara yang masuk ke dalam kamarnya. Dengan langkah pelan cowok itu menuju ke kamar mandi, dia menyentuh airnya, terasa sangat dingin pula, juga berbeda dengan hari-hari biasanya.
   Tanpa banyak berpikir Setya langsung menggebyorkan air itu ke badannya. Keluar-keluar dari kamar mandi badan Setya sangat gemetaran. Dengan cepat-cepat lalu ia menuu ke kamarnya dan bergegas ganti baju. 
   Setelah sarapan sudah dan kewajiban lainnya untuk mempersiapkan sebelum berangkat ke sekolah, Setya mengambil jaket, dan langsung pamitan ke ibu dan ayahnya, juga tidak lupa dengan Bunga, adik perempuannya.
   Dia menunggu Aldo untuk menjemputnya, dengan udara luar yang tambah dingin ketimbang di dalam rumahnya tadi, cowok itu sampai menggigil, tiupan anginnya sangat deras, menunggu dengan tidak sabar. Akhirnya muncul juga cowok itu, segera ia berlari dan menuju ke motor Aldo, terlihat Aldo juga memakai jaket hari ini.
   "Lama banget lo, gue kedinginan tau nunggu lo lama banget di depan rumah" ucap Setya dengan kedinginan.
   "Hehe maaf-maaf, emang hari ini dingin banget udaranya" kata Aldo.
   "Sudah sembuh motor lo?" tanya Setya.
   "Sudah, kemarin sore aku ambil sama kakak" jawab Aldo.
   Dengan terjangan angin yang sangat dingin, Aldo dan Setya terus melaluinya. Samapi tiba juga di sekolahan, mereka segera masuk ke dalam sekolah dan memakirkan motornya. Kabut masih terlihat di jalan-jalan, di lapangan basjet pun juga ada, matahari dari timur tidak terlihat begitu terang, karena kabut yang menutupi cahayanya.
   Padahal sekarang sudah jam setengah tujuh, tapi kabut masih terlihat jelas, dan udara dingin masih belum menghilang. 
   Bel tanda masuk sudah terdengar, semua siswa segera masuk sebelum ada guru piket yang datang untuk melihat kondisi setiap kelas. Dengan rasa dingin mereka mencoba mengikuti pelajaran dengan penuh semangat. Tapi tak lama, di jam delapanan kabut sudah menghilang dan cahaya matahari sudah bisa menghangatkan mereka, walaupun masih terasa dingin tapi agak mendinganlah.
   Sampai jam istirahat berbunyi, lalu Setya mengajak untuk keluar, tidak ke kantin tapi ke lapangan.
   "Kita main sepakbola yuk Al" ajak Setya
   Aldo pun juga ingin ikut tampaknya, mereka segera ikut, kali ini mereka berdua satu tim, Aldo di depan sebagai bagian penyerang, sedangkan Setya ada di belakang, menjaga pertahanan timnya agar tidak kebobolan.
   Pertandingan berjalan seru, terlihat penonton yang ramai, membuat pemain yang ada di lapangan basket semakin semangat. Seperti di liga inggris saja, permainan sangat seru dan cepat, membuat yang menonton juga terpanah dan nyaman di lihat oleh mata mereka.
   Tak lama permainan di mulai, tim Setya sudah unggul satu kosong, pencetak gol perdana adalah faris, dia adalah asli pemain dari sekolahan yang ikut ekstra sepakbola, dan kini dia sudah masuk di sebuah akademi klub sepakbola yang terkenal. 
   Pertandingan semakin seru, tim Setya menggandakan keunggulannya menjadi dua kosong, kali ini yang mencetak gol sama seperti yang pertama. Gol dibuat oleh Faris juga, melalui umpan dari Aldo.
   Tim lawan pun tidak mau menyerah, mereka sudah tertinggal lumayan jauh di awal-awal permainan, mereka akhirnya bisa mencetak gol, dan menipiskan kekalahan, skor sementara dua untuk tim Setya dan satu buat tim lawan.
   Tak lama berselang, kembali pertahanan Setya dapat terbobol oleh lawan dan lawan berhasil mencetak gol, sehingga skor menjadi dua sama. 
   Pertandingan semakin sengit, ada pemain lawan yang bersiap menendang, dan Setya pun mencoba segera mengeblok tendangan tersebut, tapi ternyata bola menyentuh tangan Setya, akhirnya terjadi penalti buat tim lawan. Tapi Setya terlihat biasa-biasa saja, dia malah sehabis kena handball malah tersenyum karena menurutnya bola mengenai pahanya, tapi karena kalah suara terpaksa penalti di lakukan.
   Pengesekkusi adalah pencetak gol pertama, adalah Fahmi, juga anak dari eksta kulikuler sepakbola. Dengan santai dan pelan dia mengeksekusi bola tersebut dan masuk, menjadikan skor kini berbalik 3-2. Tim Setya pun semakin menjadi, mereka menguasai lapangan, tapi fatal, karena keasyikan menyerang, pertahanan mereka kosong, dan yang menggiring bola adalah Fahmi, dengan tenang ia menaklukan penjaga gawang, satu lawan satu, dan berhasil, skor malah menjadi 4-2, semakin berat untuk mereka mengejar ketertinggalan. Waktu istirahat pun sudah mau habis.
   Kali ini tim Setya berhasil mencetak gol, dan kali ini Setya sendiri yang berhasil memasukkan bola tersebut ke dalam gawang musuh, setelah ia maju dari garis pertahan jauh ke depan, tapi untungnya dia berhasil mencetak angka, dan hasil menjadi 4-3 masih tertinggal satu angka lagi.
   Mereka masih yakin bisa menyamakan kedudukan. Tapi guru piket terlihat berjalan dan mendekati tombol bel, dan menekannya, berakhirlah pertandingan bola tersebut, walaupun kalah Setya tetap senang, karena ini cuman pertandingan biasa, bukan sebuah ternamen besar.
   Dengan keringat yang membasahi badan, Setya masuk dan mengamil sebuah buku milik temannya dan mengipas-ngipaskan ke tubuhnya.
   "Eh Set, nanti cari-cari lagi boneka Shaunnya?" tanya Arini.
   Setya menetujuinya, mumpung hari ini mereka pulang siang, jadi bisa lamaan dan pulangnya tidak terlalu sorean. Di sela-sela proses pembelajaran, Setya dapat sms masuk, dia menghiraukannya, dan membukanya setelah bel pulang saja.
   Bel pulang sudah berbunyi, Setya langsung membereskan buku-buku dan perlengkapan lainnya yang berada di atas meja. Selepas keluar dari kelas, cowok itu tidak lupa membuka sms yang masuk dari awal pelajaran kelima.

   Om Amin
   28-Jan-2012 10:13 am


Set, ktanya minta kerjaan,, temen om da yg menawarkan nih
utk lbih lnjutnya setelah kamu pulang scholl, kmu k rumah om langsung


   Setya menghentikan langkahnya dan Aldo juga Arini juga mengikutinya.
   "Eh Aldo, Arini, gue gak bisa cari-cari boneka domba itu, gue tadi dapat sms dari om aku, aku sudah ada kerjaan, tapi gak tau apa itu, dan aku di suruh ke rumahnya selepas pulang sekolah ini, kalian langsung pulang sajalah gak pa pa, besok -besok saja" ujar Setya.
    "Aku pergi sama Arini sajalah, berdua gak pa pa, iya kan Ar?!" kata Aldo sambil menoleh ke arah wajah cewek itu. Arini pun mengangguk-anggukan kepalanya.
   "Waduh jadi ngerepotin nih" ujar Setya.
   "Gak pa pa lah, lo juga sering bantuin aku saat aku ada masalah, ya udah lo pulang duluan sana, semoga sukses, nanti kabarin kalau sudah dapat kerjaan" ucap Aldo sambil mendorong badan Setya. Setya pun meringis, lalu Setya buru-buru untuk pulang.
   Saat mau ke arah halte, ada seorang yang tiba-tiba menghentikan motornya di depan Setya. Setya pun menghentikan langkahnya, dan hatinya sedikit agak deg-degan, di tambah suasana yang agak sepi, cuman hanya dia yang berjalan melintasi trotoar jalan, cowok itu bersiap-siap akan melawan saat orang misterius itu akan menculiknya. Setelah orang itu membuka helmnya ternyata itu temen sekolahnya, yang rumahnya juga sejalur dengan rumah Setya.
   "Bareng aku ayo!" ajak Udin.
   Tanpa berpikir lama, Setya yang juga sedang buru-buru segera naik ke atas motor.
   "Kok sendirian, kemana Aldo?" kata Udin sambil mengegas motornya.
   "Dia ada keperluan, jadinya gue pulang sendiri deh" teriak Setya, karena suasana jalan yang ramai dengan suara motor dan mobil yang simpang siur berlawanan arah.
   Sempai juga di depan rumah Setya, cowok itu segera dan turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih, "Thanks Din, makasih banget" ucap Setya. Udin pun mengangguk-anggukan kepalanya, lalu ia akhirnya pergi dari depan rumahnya ia juga segera ingin pelang ke rumahnya. Setya pun bergegas masuk ke dalam rumah.
   "Assalamualaikum" salam ke semua penghun rumah, dia lulu menghampiri ibunya dan tak lupa mencium tangan beliau. Setya langsung pergi ke kamarnya dan segera melakukan kewajibannya untuk sholat dan ganti baju, selepas itu ia langsung makan. Setelah semua beres, cowok itu segera berpamitan.
   "Bu aku ke rumah om Amin" kata Setya.
   "Mau ngapain ke sana?" tanya ibunya.
   "Ada urusan penting bu" sambil berjalan menjauh dan dengan langkah yang buru-buru. Setya kali ini sangat beruntung, ada motor ayahnya yang tidak nganggur, dia pakai motor itu untuk perjalanannya menuju ke rumah omnya.
   Dengan cepat ia menuju kesana, hanya butuh waktu lima belas menitan ia sudah sampai, segera meletakkan motornya, dan segera masuk.
   "Assalamualaikum" ucapnya sambil mengetuk pintu.
   Pintu pu terbuka, dan terlihat omnya sendiri yang membukakan pintu itu.
   "Sudah aku tungguin lo Set, kita langsung kesana aja ya" ucap om Amin. Setya mau-mau saja, karena dia juga tidak sabar untuk segera melihat apa pekerjaannya.
   Mereka menuju ke sebuah warnet, lumayan besar dan bagus warnetnya, omnya mengajak masuk dan menemui penjaga sekaligus yang punya tempat ini. "Ini dia, namanya Setya" ucap om Setya itu.
   "Oh ini, katanya butuh pekerjaan, ini kerjanya, kamu jaga warnet ini gimana, dari jam dua setelah kamu pulang sekolah dan sampai sekitar mau maghriban, gimana?" ucap temen omnya.
   Setya pun segera mengangguk-anggukan kepalanya, dia menyetujuinya. Dan hari ini Setya langsung kerja, dan Arman , nama pemilik warnet itu segera membelajari si Setya bagaimana kerja dia di sini, dan om Amin pun meninggalkan Setya, karena dia juga mempunyai urusan lain.
   Setelah paham, Setya langsung duduk dan memulai tugasnya, dan pemilik warnet itu menuju ke atas, ke tingkat dua meninggalkan Setya sendirian di temani lagu yang terdengar sangar keras hingga semua tempat di warnet itu terdengar.
   Kerja Setya adalah menjadi kasir, juga menjaga dan mengawasi warnet tersebut. Setya yang juga jago dalam komputer tidak terlalu kesulitan dalam menangani ini.
   Waktu sudah mulai sore, dan di luar sudah mulai petang dan lampu sudah dinyalakan warnet tersebut, Aldo segera berkemas-kemas. Arman turun dari lantai kedua dan menghampiri Setya.
   "Nih ada amplob buat lo" kata Arman sambil menyodorkan amplob tersebut ke Setya.
   "Oh iya mas, terima kasih, terus aku boleh pulang kapan?" tanya Setya.
   "Kamu itu pulangnya saja yang di pikirin, sebelum pulang tolong kamu bersihin dulu tempat ini ya" kata mas Arman.
   Mas Arman pun kembali ke atas setelah memberikan amplop itu. Setelah warnet sepi, dan sebentar lagi juga sudah maghrib, Setya mengambil sapu dan membersihkan warnet tersebut.
   Setelah semua terlihat sudah bersih, Aldo berpamitan ke mas Arman, dan segera pulang. Dengan cepat-cepat Setya memacu motornya. Dia berpikir ibunya akan bertanya dari mana dia, kalau aku jawab dari rumah om, pasti akan di tanyai, ada urusan ada, dan aku harus alasan bagaimana, di hatinya ia berpikir. Setya tidak tahu, lihat nantilah, ucap Setya.
   Setelah sampai di depan rumahnya, Setya langsung memasukkan motornya ke dalam rumah, lalu ia mencoba untuk masuk ke marnya tanpa sepengetahuan ibunya. Dengan langkah yang pelan dan juga mencoba agar tiada yang suara terdengar, sambil menoleh ke kiri kanan, melihat apakah ada ibunya atau tidak. Pintu kamarnya sudah tinggal sepuluh meteran, tapi ternyata di belakang ada suara adiknya yang memanggil namanya "Kak Setya, dari mana saja sih, di cariin ibu dari tadi tuh" dengan suara yang lumayan keras. Setya langsung melototi Bunga
   Pintu kamar ibunya langsung terbuka, dan yang membukanya adalah ibunya sendiri, "Eh ibu" sapa Setya dengan sok manis.
   "dari mana saja kamu?" tanya ibunya.
   "Dari rumah om" jawab Setya sengan tawa meringisnya.
   "Kok baru pulang, ada apa emang" tanya lagi ibunya. Di dalam hati Setya langsung berbicara, "Iya kan!".
   "Gak ada apa-apa kok bu, cuman main saja, maaf pulangnya magrib-maghrib bu" jawab Setya.
   Ibunya percaya saja ke anaknya itu, Setya pun langsung masuk ke kamarnya, dan tak sabar mau membuka amplop yang di kasih dari mas Arman tadi.
   Setya langsung menuju ke kasur, lalu ia buka amplop itu dan isinya ternyata uang berisikan sepuluh ribu, Setya menarik nafas berat-berat, "Ternyata berat juga kerja itu ya, gak pa pa lah aku syukuri yang ada ini, pasti tuhan akan memberi lebih nanti" ujarnya dengan tangan memegang uang sepuluh ribu.
   Uang itu lalu ia masukkan ke dalam bekas kotak wafer yang sudah ia buat menjadi celengannya, di tutupnya sudah ia lubangin. Karena penasaran, Setya membukanya. Penasaran dengan isinya, ia juga agak deg-degan saat mau membukanya, karena semua uangnya ada di dalam sana, uang sisa jajannya tiap hari juga ia masukan ke kotak wafer hitam itu.
    Lumayan banyak, Segera Setya menghitungnya, dan hasilnya pun sudah agak memuaskan, "lima puluh ribu buat hari ini, besok sudah tinggal empat hari lagi, sabar pokok, tuhan akan selalu hambanya yang susah kok" ujarnya.
   Badan Setya sudah kecapekan, ia lalu pergi ke meja makan, perutnya pun sudah lapar dari tadi. Ibunya yang melihat anaknya makan lahap sekali hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Makan sudah kini ia menuju ke meja belajarnya, walaupun sebenarnya dia kecapekan betul dan malas pula, tapi dia membetah-betahkan dirinya untuk belajar walaupun cuman sebentar.
   Setya mengerjakan tugas bahasa inggris, salah tugasnya banyak, dia di suruh membuat cerita minimal lima rstus kataan, dengan berpikir dengan rasa lelah yang mendera tubuhnya, tapi Setya tetep saja bisa mengerjakan tugas tersebut lumayan lancar. Kurang lebih dua jam dia berada di depan meja, mungkin tinggal lima puluh kata lagi, matanya pun sudah merasakan kantuk, dengan berpikir Setya meletakkan kepalanya di atas bukunya, dengan mata yang berat, ternyata cowok itu sudah tertidur di depan kursi belajarnya. Setya sudah tidak kuat menahan rasa lelah plus kantuk ini.

0 komentar:

Poskan Komentar